Archive for November, 2009

Internet Pengaruhi Kualitas Sperma.. ??

Berselancar di dunia maya memang menjadi kebutuhan yang tak terelakkan di era digital. Tapi terlalu lama berselancar di dunia maya, ternyata juga berdampak buruk bagi kesehatan.

Sejumlah peneliti di sebuah rumah sakit di Guangxi Zhuang, China, mengungkapkan terlalu banyak bermain internet di depan komputer dapat mempengaruhi jumlah dan kualitas sperma pria.

Penelitian dilakukan terhadap sperma sekira 217 sukarelawan yang merupakan mahasiswa yang kerap berselancar di dunia maya dari 19 perguruan tinggi di kawasan Guangxi Zuang. Hasilnya diketahui, sebanyak 50 persen mahasiswa tersebut memiliki jumlah sperma yang sedikit. Bahkan dapat dikategorikan ‘abnormal’.

Sebelumnya para peneliti dari Standford University, California, Amerika Serikat pernah meneliti hubungan antara gelombang elktromagnetik dengan kualitas sperma. Gelombang elektromagnetik berisiko dua kali lebih besar menyebabkan penurunan kualitas sperma. Dengan demikian berlama-lama bermain internet bisa mempengaruhi kualitas sperma karena gelombang elektromagnetik yang menghubungkan internet.

Sumber

Wadeuuuhhh………gimana nih…. Gua belum married.., harus batasin Online nih.. 😦

Kelebihan Zat Besi Mengakibatkan Pusing

Banyak orang yang mengeluh pusing-pusing setelah makan beberapa jenis daging, termasuk daging kambing. Normalkah itu? Kandungan zat besi dan tyramin yang ada pada daging ternyata adalah sumber penyebabnya.

Gejala sakit kepala dan pusing adalah efek dari kurangnya asupan gula ke otak yang merupakan makanan agar otak bisa bekerja dengan baik. Makan daging yang banyak kandungan proteinnya bisa mengurangi asupan gula ke otak.

Tapi penyebab pusing yang paling banyak ditemukan pada seseorang yang makan daging kambing adalah kandungan zat tyramin serta zat besinya.

Tubuh sebenarnya membutuhkan zat besi sebagai bahan baku untuk memproduksi protein hemoglobin yang berfungsi mengangkut oksigen ke darah. Tapi kelebihan zat besi ternyata bisa jadi racun yang memicu pusing dan sakit kepala.

Menurut National Poison Control Center, gejala yang biasa muncul karena kelebihan zat besi adalah pusing, mual, lemah, sakit kepala dan nafas pendek. Kelainan genetik yang disebut hemchromatosis juga bisa menyebabkan tubuh memproduksi zat besi berlebih.

Orang yang punya kelainan genetik ini harus melakukan diet daging rendah zat besi, tidak boleh mengonsumsi suplemen zat besi atau melakukan penggantian darah (phlebotomy).

Bukan hanya zat besi, zat pemicu pusing lainnya adalah tyramin. Selain di daging merah, tyramin banyak terdapat pada keju yang disimpan, anggur merah dan liver. Gejala pusing dan sakit kepala biasa muncul 12 jam setelah mengonsumsi makanan-makanan tersebut.

Seperti dikutip dari Healthscout, Sabtu (28/11/2009), The Food and Nutrition at Medicine Institute menyarankan konsumsi daging merah sebaiknya dibatasi antara 8-18 mg per hari.

Sumber

Ternyata Hal-hal yang berlebihan itu tidak baik juga ya bagi kesehatan tubuh.. 🙂

Farmasis Di Indonesia Belum Mandiri

Salah satu ujung tombak pelayanan tenaga kefarmasian kepada masyarakat adalah apoteker. Sayangnya, apoteker di Indonesia belum sepenuhnya bisa mandiri.

Begitu informasi dari Ketua Pengurus Daerah Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia (ISFI) Daerah Istimewa Yogyakarta, Nunut Rubiyanto. Menurutnya, apoteker memang dapat dibantu tenaga kesehatan lain, laiknya dokter, namun apotekerlah yang seharusnya melakukan analisis dan mengambil keputusan terhadap data yang masuk dari pasien. “Harus dia sendiri,” tegas Nunut.

Nunut menilai, belakangan ini banyak isu kefarmasian yang muncul, mulai dampak penyalahgunaan obat hingga masalah puyer atau obat bekas, tidak tertangani dengan baik. “Selain karena aturan tidak tegas, mentalitas apoteker belum banyak terpacu,” katanya.

Apalagi, Nunut menambahkan, masyarakat saat ini sudah menyadari hak-haknya sebagai pasien dan konsumen obat. “Kalau (masalah farmasi) ini tidak disadari dan diantisipasi, berbahaya,” ujar Nunut serius.

Karena itu, sejak akhir 2005, organisasi profesi apoteker di DIY merintis diskusi perihal kualitas pelayanan kesehatan. Topik ini menjadi bahasan selanjutnya setelah soal akses layanan kesehatan sudah tak jadi masalah. “Kalau akses sudah tercukupi, pasti akan bicara kualitas,” kata Nunut.

Salah satu hal penting dalam kualitas pelayanan kesehatan berkaitan dengan tenaga kesehatan. “Kualitas pelayanan kefarmasiaan tergantung pada tenaganya. Kualitas pelayanan kesehatan baik karena tenaga kesehatannya baik. Tenaga apoteker itu harus selalu ada (di apotek) dan kompeten,” tuturnya.

Dari hasil diskusi itu mulai 1 Januari 2006 organisasi profesi apoteker DIY mewajibkan apoteker harus selalu ada di apotek. Selain itu tiap apotek memiliki minimal dua apoteker. Satu apoteker sebagai penanggungjawab, yang lain sebagai apoteker pendamping jika apoteker penangungjawab berhalangan. “Kedudukannya sama,” jelas Nunut. Ketentuan ini, terutama mesti dilaksanakan oleh apotek baru dan apotek yang tengah memperpanjang ijin.

Sebagai salah satu gambaran keadaan apoteker di wilayah misalnya, per 30 November 2008, 43 persen dari sekitar 400 apotek di DIY mempunyai lebih dari satu apoteker. Hingga Desember 2008, angkanya naik sampai 47 persen. “DIY menjadi pelopor. Wilayah lain belum ada,” ujarnya.

Menurut dia, hal ini juga merupakan upaya menekan angka pengangguran di bidang farmasi. Mengingat, di DIY ada empat perguruan tinggi yang memiliki fakultas farmasi yang menelurkan sekitar 800 lulusan tiap tahun.

Selain dari ketersediaan, kompetensi tenaga farmasi juga harus diperhatikan. Untuk itu dilakukan sertifikasi tenaga farmasi melalui uji kompetensi. Ini dilakukan melalui kerja sama dinas kesehatan DIY dan badan terkait. Uji kompetensi meliputi uji pengetahuan, keterampilan hingga moral penanganan pasien. “Fokusnya patient safety,” kata Nunut.

Uji kompetensi ini berbeda dengan uji tenaga farmasi lain karena juga memberi uji keterampilan menghadapi pasien dalam kondisi paling sulit. “Bukan hanya soal tertulis, tapi juga praktek langsung,” jelas Nunut.

Sejak Desember 2005, ujian dilakukan setiap tiga bulan dan sudah berlangsung 16 kali. Pesertanya minimal 60 orang dan terakhir digelar diikuti oleh 102 peserta. Upaya ini pada akhirnya dipresentasikan ke pihak pusat dan sejumlah daerah. Langkah ini mulai diterapkan di Jawa Tengah. “Tinggal political will daerah lain saja,” kata Nunut.

Sumber

Semoga di Wilayah gua (Kalsel) dapat mencontoh DIY (Yogyakarta), 1 Apotik minimal 2 orang Apoteker. 🙂

Terapi Sorafenib untuk Penderita Kanker Hati

Terapi sistemik dengan memakai Sorafenib terbukti berhasil meningkatkan harapan hidup penderita kanker hati.

Peneliti juga optimistis terapi Sorafenib dapat bermanfaat lebih banyak bagi pasien yang menderita berbagai kanker yang sulit ditangani.

Ketiadaan gejala yang khas pada tahap awal perkembangan kanker hati mengakibatkan kebanyakan pasien terdiagnosa pada stadium lanjut. Setelah ditemukannya Sorafenib, terapi sistemik pertama yang disetujui untuk pasien kanker hati mendapatkan harapan baru, karena terapi sistemik ini terbukti berhasil meningkatkan harapan hidup penderita.

Sorafenib digolongkan ke dalam sebuah kelas baru pengobatan kanker yang diciptakan untuk menekan pertumbuhan tumor dengan cara menghambat dua jenis (enzim) yang dibutuhkan untuk perkembangan sel kanker dan suplai darah.

Dalam uji coba klinis yang melibatkan 602 pasien kanker hati, pasien yang menerima obat ini rata-rata hidup selama 10,7 bulan. Sementara pasien dalam kelompok kontrol yang menerima plasebo rata-rata hidup selama 7,9 bulan. Sorafenib saat ini juga sedang diuji sebagai terapi yang juga potensial untuk beberapa jenis kanker lainnya.

Data World Health Organization diketahui jumlah penderita baru kanker di dunia akan melonjak dari 10 juta pada tahun 2000 menjadi 15 juta pada tahun 2020. Di Asia Pasifik saja tercatat hampir 3,5 juta kasus kanker pada 2002.

“Dalam situasi di mana penyakit tidak lagi dapat disembuhkan, maka pengobatan kanker difokuskan pada peningkatan usia hidup, menjaga, serta meningkatkan kualitas hidup selama mungkin, dengan menjalankan terapi-terapi yang telah terbukti secara klinis,” kata Dr Agus S Waspodo, SpPD, KGEH dari RS Kanker Dharmais, Jumat, (20/11).

Langkah ini dimulai dengan dilakukannya pengembangan terapi target yang menghalangi pertumbuhan dan penyebaran kanker, dengan cara menghambat molekul tertentu yang membantu pertumbuhan dan perkembangan kanker.

Terapi target membantu pasien mentoleransi terapi sistemik dan meningkatkan kontrol terhadap gejala. Meski tidak dapat menyembuhkan total, namun pendekatan ini dapat memperlambat, menghentikan, atau pada beberapa kasus tertentu menurunkan perkembangan kanker sehingga pasien dapat mengendalikan kanker mereka hingga jangka panjang.

“Prognosis untuk penderita kanker hati seringkali terlambat karena penyakit ini tidak menunjukkan gejala-gejala tertentu hingga kanker berkembang ke stadium lanjut. Bahkan, sekitar 80% pasien dengan (HCC) – jenis kanker hati yang paling umum – biasanya terdiagnosa saat stadium medium dan lanjut,” papar Dr Agus S Waspodo lebih lanjut.

Pada tahap ini, kata dia, operasi sebagai metode paling efektif dalam penanganan kanker hati tidak dapat dilakukan. Karena itu, penting memiliki opsi terapi efektif yang dapat membantu pasien menangani penyakitnya pada stadium berbeda-beda.

Berdasarkan uji klinis SHARP (Sorafenib HCC Assessment Randomized Protocol), Sorafenib berhasil meningkatkan kemampuan bertahan pasien penderita kanker hati stadium lanjut hingga 44% dibandingkan dengan plasebo.

Studi lebih lanjut pada pasien penderita HCC di Asia Pasifik juga mengonfirmasi efektifitas Sorafenib pada populasi yang lebih luas dari pasien penderita HCC.

Berdasarkan mekanisme antiangiogenik dan para peneliti kini sedang menjalankan beberapa uji klinis untuk mengetahui efektifitas Sorafenib sebagai terapi kombinasi atau ajuvan dalam pengobatan HCC stadium awal, yang berarti Sorafenib dapat membawa manfaat bagi lebih banyak lagi pasien di seluruh stadium kanker hati.

Sorafenib juga diindikasikan untuk terapi (RCC) stadium lanjut, jenis kanker ginjal yang paling umum ditemukan pada orang dewasa. RCC dinilai sebagai tumor yang paling sulit ditangani, karena terapi antikanker konvensional seperti kemoterapi dan radioterapi hampir tidak memiliki efektifitas dalam RCC.

Para peneliti saat ini sedang mengevaluasi potensi Sorafenib dalam terapi berbagai jenis kanker, termasuk kanker tiroid, kanker paru akut, serta kanker payudara. Hasil dari dua studi fase III tentang kanker paru diperkirakan akan keluar pada tahun 2010.

Sumber

Mudah-mudahan terapi Sorafenib dapat menekan penyakit kanker hati di Dunia ini 🙂

Batuk Lama, Curigai PPOK

Jika batuk berdahak tak kunjung sembuh lebih dari sebulan, napas sesak atau tak kuat naik lantai padahal baru satu lantai, Anda patut curiga terkena Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). PPOK adalah penyakit yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara di saluran nafas dan bersifat progresif.

Penyebabnya adalah inflamasi paru akibat paparan gas berbahaya, rokok, asap polusi atau pembakaran. Gejalanya yaitu sesak nafas, batuk kronik, aktivitas memburuk, dan kondisi paru-paru yang abnormal (menggembung). Menurut WHO, PPOK menduduki urutan ke-5 penyebab kematian.

“Penyakit ini dapat dicegah dan diobati, tapi tidak bisa disembuhkan. Dokter hanya bisa menolong, bukan menyembuhkan,” ujar Prof dr Hadiarto Mangunnegoro, SpP(K), FCCP, dalam acara seminar ‘Jangan Sepelekan PPOK’ di Rumah Sakit Asri, Jakarta, Sabtu (21/11/2009).

Menurut Prof Hadiarto, pemicu utama PPOK adalah rokok. “Jadi kalau nggak mau kena penyakit ini, kebiasaan pertama yang harus dihilangkan adalah rokok, kedua rokok, ketiga juga rokok,” ujar Hadiarto.

PPOK akan semakin parah kalau faktor-faktor penyebabnya tadi berada di ruang tertutup, seperti dalam ruangan. “Makanya itu kenapa orang-orang sekarang yang kena PPOK jauh lebih tinggi jumlahnya dibanding zaman dulu, itu karena orang sekarang lebih banyak tinggal di apartemen, selain karena polusi yang tinggi, terutam di Jakarta” ujarnya.

Asal tahu saja, meski penyebab utama PPOK adalah rokok, tapi orang yang tidak merokok pun bisa terkena. “Saya pernah punya pasien PPOK, dia tidak merokok dan lingkungan sekitarnya pun bebas dari asap rokok, tapi kenapa dia bisa kena? Setelah ditanya-tanya, ternyata dia punya kebiasaan membakar daun,” tutur Hadiarto.

Orang yang terkena asap rokok atau perokok pasif pun bisa terkena. “Tapi nggak bener kalau ada yang bilang perokok pasif itu lebih parah dari perokok aktif,” ujar Hadiarto. PPOK adalah salah satu penyakit kelainan paru yang bisa mengakibakan gagal jantung.

“Paru sangat berkaitan erat dengan jantung. Kerja paru dan jantung selalu bersamaan, bagai angka 8 dimana salah satu lingkaran adalah aliran paru sementara lingkaran lainnya adalah aliran jantung yang berkesinambungan,” jelas Kasim.

Untuk pengobatannya, yang terpenting adalah mengontrol penyebabnya. “Kadang diperlukan obat pengencer dahak, alat pembantu oksigen, obat hisap atau pemberian kortikosteroid kalau sudah parah,” ujar Kasim.

Selain itu, gaya hidup dan lingkungan yang sehat juga bisa mencegah penyakit ini. “Berhenti merokok, ciptakan udara bersih di rumah, hindari asap dan debu kendaraan, jangan memasang obat nyamuk bakar dalam tempat tidur, jaga kebugaran dengan latihan jalan, olahraga dan makan makanan sehat,” saran Hardiato.

Adapun Rekomendasi obat yang digunakan ialah Jenis obat Rifampicin..

Sumber

Wadeuuuhhh…… gua dulu mantan Perokok nih., mudah2an tidak sempat terkena penyakit PPOK… 😀

Meditasi Kurangi Serangan Jantung

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipresentasikan pada pertemuan ilmiah, American Heart Association di Orlando, Florida, dibuktikan penderita penyakit kardiovaskular yang berlatih teknik meditasi, khususnya meditasi transendental mengalami penurunan risiko terkena serangan jantung, stroke, dan bahkan kematian hingga setengahnya dibandingkan dengan penderita yang tidak melakukan meditasi.

Meditasi transendental, diperkenalkan pertama kali di India pada 1955 oleh Maharishi Mahesh Yogi. Teknik ini dilakukan dalam posisi duduk tenang dan konsentrasi untuk memfokuskan pikiran sambil mengucapkan sebuah mantra. Stres yang dianggap sebagai faktor utama penyebab penyakit kardiovaskular diyakini dapat teratasi dengan teknik meditasi ini.

Lebih dari sembilan tahun, 201 laki-laki dan perempuan Afrika – Amerika berusia rata-rata 59 tahun, yang menderita penyempitan pembuluh nadi jantung dilibatkan dalam penelitian.

Secara acak mereka dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok yang mempraktikkan meditasi transendental dan kelompok yang mengambil kelas edukasi kesehatan dengan menerapkan pola diet dan olahraga. Pada kelompok meditasi, mereka diminta melakukan meditasi dalam posisi duduk dengan mata tertutup sekitar 20 menit dua kali sehari. Kedua kelompok ini juga tetap melanjutkan pengobatan normal mereka seperti biasa.

Peneliti dari Medical College of Wisconsin di Milwaukee yang berkolaborasi dengan Institute for Natural Medicine and Prevention di Maharishi University of Management di Fairfield, Iowa, menemukan bahwa serangan jantung, stroke dan kematian berkurang hingga 47% pada kelompok pasien yang melakukan meditasi. Tekanan darah mereka juga mengalami penurunan dan secara signifikan mengurangi tingkat stres.

“Penelitian sebelumnya mengenai meditasi transendental menunjukan adanya pengurangan tekanan darah, stres, dan faktor risiko lainnya pada penyakit jantung, terlepas dari faktor etnisitas,” kata Dr Robert Schneider, ketua penelitian sekaligus pemimpin Center for Natural Medicine and Prevention.

Hasil ini, kata dia, menjadi percobaan pertama secara klinis yang menunjukkan bahwa latihan dalam jangka lama atas program pengurangan stres ini, menekan angka kejadian penyakit kardiovaskular, seperti serangan jantung, stroke, dan kematian.

sumber

ngelakuin meditasi di Goa boleh ga ya ?? hihihi, kalo yoga apa bedanya ?? 🙂

Pengharum Ruangan Bikin Gangguan Pada Paru-Paru

Maaf kalo Repost ya guys.., ni buat yg belom tau. Bagi yang dah tau nyimak aja deh 😀

Dalam beberapa tahun terakhir kandungan kimia dalam penyegar dan pengharum ruangan dicurigai menjadi penyebab sesak nafas dan masalah paru-paru lainnya.

Penelitian yang dilakukan National Institutes of Health, Amerika Serikat menemukan bahwa pada orang-orang yang berada pada ruangan berpengharum, dalam darahnya terkandung 1,4-dichlorobenzene, kimia organik yang menurunkan fungsi paru-paru.

Substansi kimia ini amat umum dijumpai dalam kapur barus, asap rokok, dan pengharum kamar mandi.

Sementara itu penelitian lain yang dipublikasikan Environmental Health Perspectives menelaah kesehatan 953 orang berusia rata-rata 37 tahun selama enam tahun berturut-turut.

Setelah mengeliminasi faktor lain seperti asap rokok, penelitian itu menemukan 10% dari responden mempunyai kadar 1,4 DCB dalam darahnya, semakin parah setelah berada di ruangan berpengharum udara. Fungsi paru-parunya turun empat 4%.

Angka empat persen tidak cukup kuat untuk mengenyahkan pengharum ruangan dengan segera, namun seperti disampaikan periset, apabila fungsi pernafasan menurun adalah indikasi dari kerusakan paru-paru. Solusinya, kurangi penggunaan produk sejenis dan lebih banyak membersihkan ruangan serta dialiri udara segar.

Sumber

Waaahh jadi hati hati nih kalo make pengharum ruangan..sebulan sekali kayaknya cukup deh hihihi 😀